Terakhir diperbarui: 7 September 2026

WBO CAN Controller

Gambaran Umum

Mazduino WBO CAN Controller

WBO CAN Controller adalah wideband oxygen controller untuk sensor Bosch LSU 4.9. Modul ini membaca sensor, menghitung nilai lambda/AFR, lalu mengirimkannya ke bus CAN — sehingga ECU membacanya tanpa memerlukan input analog khusus.

Modul memakai protokol wideband rusEFI, jadi hanya bisa dipasangkan dengan ECU berbasis rusEFI, termasuk seluruh lini Mazduino.

Kegunaannya ada dua:

  • Menghemat pin ECU. Sensor wideband butuh enam kabel dan rangkaian pengendali pemanas tersendiri. Dengan modul ini, ECU cukup terhubung ke bus CAN yang mungkin sudah terpasang.
  • Menambah sensor kedua. Untuk mesin dengan dua bank, dua modul bisa dipasang di bus yang sama.

Modul memakai konektor Molex 2x6 (12 pin) yang membawa daya, CAN, dan seluruh enam kabel sensor dalam satu konektor.


Pinout Konektor

Konektor Molex 2x6, dilihat dari sisi kabel:

Baris Pin 1 Pin 2 Pin 3 Pin 4 Pin 5 Pin 6
Baris 1 (atas) Heater+ CANH LSU_Un LSU_Rtrim LSU_Vm kosong
Baris 2 (bawah) +12V CANL kosong Heater- LSU_Ip GND

Ringkasnya per fungsi:

Fungsi Pin
Daya +12V (Baris 2, Pin 1) dan GND (Baris 2, Pin 6)
CAN CANH (Baris 1, Pin 2) dan CANL (Baris 2, Pin 2)
Pemanas sensor Heater+ (Baris 1, Pin 1) dan Heater- (Baris 2, Pin 4)
Sinyal sensor LSU_Un, LSU_Rtrim, LSU_Vm, LSU_Ip

Perhatikan Heater+ dan +12V. Keduanya sama-sama Pin 1, hanya beda baris. Tertukar berarti pemanas sensor tersambung langsung ke 12V tanpa kendali modul, dan sensor akan rusak karena kepanasan. Pastikan baris konektornya benar sebelum menyalakan daya.


Wiring Sensor LSU 4.9

Konektor LSU 4.9

Warna kabel di bawah adalah warna standar Bosch LSU 4.9, jadi berlaku untuk sensor asli maupun konektor penggantinya.

Tabel ini menyambungkan dua konektor yang berbeda, jadi perhatikan kolomnya: Pin Sensor adalah nomor pin di konektor LSU 4.9 milik sensor, sedangkan Posisi di Konektor Modul adalah tujuannya di konektor Molex 2x6 milik WBO CAN Controller.

Pin Sensor (LSU) Warna Kabel Sinyal Posisi di Konektor Modul
1 Merah LSU_Ip Baris 2, Pin 5
2 Kuning LSU_Vm Baris 1, Pin 5
3 Putih Heater- Baris 2, Pin 4
4 Abu-abu Heater+ Baris 1, Pin 1
5 Hijau LSU_Rtrim Baris 1, Pin 4
6 Hitam LSU_Un Baris 1, Pin 3

Nomor pin di kedua sisi tidak berurutan satu sama lain — Pin 1 sensor tidak menuju Pin 1 modul. Ikuti warna kabelnya, jangan mencocokkan nomor pin.


Wiring Daya dan CAN

Daya. Ambil +12V dari jalur yang ikut mati saat kunci kontak off, jangan langsung dari aki. Pemanas sensor menarik arus cukup besar dan akan mengosongkan aki kalau modul tetap menyala saat mesin mati.

Ground. Sambungkan GND ke titik ground yang sama dengan ECU. Ground yang berbeda antara modul dan ECU membuat pembacaan bergeser dan bisa mengganggu komunikasi CAN.

CAN. CANH dan CANL harus berupa kabel berpilin (twisted pair), dan bus memerlukan resistor terminasi 120 Ω di kedua ujung — bukan di setiap perangkat. Kalau modul ini berada di ujung bus, salah satu terminasi ada di sini; kalau di tengah, tidak perlu terminasi sama sekali.

Kesalahan paling umum: memasang terminasi di setiap perangkat. Tiga resistor 120 Ω paralel membuat impedansi bus terlalu rendah dan komunikasi berhenti total.


Menghubungkan ke ECU dan Dash

Alur datanya bertingkat, satu arah:

Sensor LSU 4.9  →  WBO CAN Controller  →  bus CAN  →  ECU Mazduino  →  Dash

Dash tidak membaca modul ini secara langsung. Yang ditampilkan dash adalah nilai AFR yang sudah diolah ECU, dikirim lewat protokol ECU seperti data mesin lainnya. Jadi tidak ada yang perlu dikonfigurasi di sisi dash — begitu ECU membaca lambda dengan benar, angkanya ikut muncul.

Setelan di ECU

Bitrate bus CAN modul ini 500 kbps, dan bus di sisi ECU harus diset sama. Bitrate yang berbeda tidak membuat data "sebagian masuk" — sama sekali tidak ada yang terbaca.

Lalu di bagian konfigurasi lambda sensor:

  • Wideband mode — pilih mode wideband internal rusEFI, bukan Analog dan bukan AEM X-Series
  • Sensor index — 0 untuk modul pertama, 1 untuk modul kedua

Dua modul dalam satu bus wajib memakai index yang berbeda. Kalau index-nya sama, keduanya saling menimpa dan pembacaannya kacau.


Catatan Penting Sensor Wideband

Sensor LSU 4.9 adalah komponen habis pakai, dan sebagian besar kerusakannya berasal dari pemasangan, bukan dari umur.

Posisi pemasangan. Pasang sensor minimal 10° di atas garis horizontal, dengan ujung sensor mengarah sedikit ke atas. Kalau dipasang mendatar atau menghadap ke bawah, air hasil kondensasi knalpot akan menggenang di ujung sensor. Saat pemanas menyala, air itu mendidih seketika dan meretakkan keramik di dalamnya.

Jangan menyalakan modul tanpa sensor terpasang di knalpot. Pemanas yang menyala di udara terbuka membuat sensor kepanasan karena tidak ada aliran gas yang mendinginkannya.

Bahan bakar bertimbal (leaded) merusak sensor. Timbal melapisi elemen sensor secara permanen. Untuk mesin balap yang memakai avgas atau bensin bertimbal, sensor ini tidak cocok dipakai permanen.

Hindari silikon. Uap dari sealant RTV, sebagian cairan pembersih, dan beberapa jenis spray bisa meracuni sensor. Kalau memakai sealant di sistem knalpot atau intake, pastikan jenisnya sensor-safe.

Pembacaan baru valid setelah sensor panas. Beberapa detik pertama setelah modul menyala, angkanya belum bisa dipercaya. Ini normal dan bukan tanda kerusakan.


Troubleshooting

Tidak ada data di bus CAN

  • Periksa CANH dan CANL tidak tertukar
  • Pastikan terminasi 120 Ω ada di kedua ujung bus, bukan di tiap perangkat
  • Pastikan bus CAN di ECU diset 500 kbps
  • Pastikan ECU memakai mode wideband rusEFI, dan sensor index-nya cocok
  • Ukur tegangan di pin +12V dan GND langsung di konektor modul

AFR terbaca tapi angkanya tidak masuk akal

  • Cek seluruh enam kabel sensor terpasang di posisi yang benar
  • Cek ground modul dan ECU berada di titik yang sama
  • Cek tidak ada kebocoran knalpot sebelum posisi sensor; udara luar yang masuk membuat pembacaan tampak jauh lebih miskin (lean) dari sebenarnya

AFR selalu menunjukkan sangat miskin (lean)

  • Kebocoran knalpot di antara mesin dan sensor adalah penyebab paling umum
  • Pada mesin yang baru dihidupkan, tunggu sampai sensor mencapai suhu kerja

Sensor cepat rusak berulang kali

  • Periksa sudut pemasangan; kondensasi adalah penyebab paling sering
  • Periksa jenis bahan bakar yang dipakai